RATUSAN IMIGRAN GELAP JADI TUMBAL RATU PANTAI SELATAN

 kisahnyata                   

Tengggelamnya kapal imigran asal Timur Tengah di Pantai Prigi, Watu Limo Trenggalek, Jawa Timur, menyisakan cerita mistis yang mengerikan. Katanya, mereka yang jadi korban tenggelam itu telah jadi tumbal kerajaan gaib Pantai Laut Selatan.

Tenggelamnya kapal fiber yang ditumpangi 215 imigran itu kemungkinan karena pengaruh cuaca buruk. Sebagian lagi menyebut karena jumlah penumpang yang over kapasitas, dimana seharusnya kapal hanya mampu menampung 100 orang penumpang.

Tapi semua tudingan ini ternyata di mentahkan oleh sejumlah spiritualis. Salah satunya, spiritualis bernama Mochammad Mukayani, asal Blitar, Jawa Timur. Menurut Mukayani, apa yang terjadi dengan kapal itu tak lepas dari pengaruh Bulan Suro yang sangat sakral bagi masyarakat Jawa. “ Karena memang di bulan inilah, Kanjeng Nyi Roro Kidul selalu punya gawe. Jadi mereka memang sengaja ditumbalkan,” ujar Mukayani kepada KISAH NYATA. Mukayani bahkan menyebut, kematian ratusan imigran gelap yang berencana mencari suaka politik ke Australia itu jauh-jauh hari sudah bisa diketahui sebelumnya. Sebagai seorang spiritualis, Mukayani pernah melakukan dialog dengan Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan. Dialog diadakan di Pantai Tambak, Blitar Selatan. Dalam pertemuan gaib itu, Nyi Roro Kidul tidak tampak seperti biasanya. Dia sedih dan terlihat murung.

“Beberapa kali saya tanya ada apa Kanjeng ? Tapi beliaunya tidak langsung menjawab. Masih tetap diam dan terlihat sedih," kata Mukayani, yang mengaku sempat heran melihat keadaan Nyi Roro Kidul yang tidak seperti biasa.

Tak lama kemudian, Nyi Roro Kidul bercerita. Dihadapan Mukayani, dia mengatakan, jika dalam waktu dekat akan ada tsunami yang bakal menghancurkan sebagian wilayah pesisir Selatan Jawa. “ Katanya, tsunami ini akan lebih dahsyat dari tsunami di Aceh tahun 2004,” ujarnya. Untuk mencegah tsunami dahsyat, maka Nyi Roro Kidul membutuhkan jumlah tumbal yang juga besar. Artinya tumbal nyawa manusia yang lebih banyak dari biasanya. “Karena setiap Bulan Suro pasti ada tumbal, pasti ada orang yang tewas di Laut Selatan. Tapi khusus untuk saat ini, Nyi Roro Kidul minta tumbal yang banyak untuk menahan tsunami agar jangan sampai terjadi,” terang Mukayani.

Mendengar ucapan Nyi Roro Kidul, Mukayani sempat miris. Dia tak tega jika akhirnya harus banyak nyawa yang terbuang. Oleh sebab itulah, dia sempat menawarkan agar Nyi Roro Kidul mengganti tumbal manusia dengan yang lainnya. “Tapi waktu itu beliau menolak. Katanya,tanpa tumbal manusia,maka tidak akan mampu menahan gemburan tsunami. Sebab,nantinya korban itu akan diletakan ditempat-tempat khusus untuk menjaga terjangan ombak,”kata Mukayani yang pernah dinobatkan sebagai supranatural terbaik tahun 2008 ini.

Hasil pertemuan ini akhirnya membuat Mukayani sedih. Sebab kenyataannya,Nyi Roro Kidul tetap tidak bergeming.Dia tetap ingin menumbalkan manusia dalam jumlah besar. Karena kehabisan akal,akhirnya Mukayani menyerah.Tapi satu hal lagi,saat itu dia sempat meminta,agar Nyi Roro Kidul tidak mengambil nyawa masyarakat pribumi.Dia berharap,tumbal yang akan dikorbankan nantinya adalah orang-orang asing di luar Indonesia.”Saya bilang kepada beliau,carilah orang yang ada diluar sana,jangan warga sendiri.Dan akhirnya dia memilih para imigran gelap asal Timur Tengah itu.”

Jadi apa yang terjadi dengan kematian para imigran gelap dari iran itu memang sudah saya prediksi sebelumnya,”terang Mukayani,yang mengaku senang akhirnya Nyi Roro Kidul menepati keinginannya.

TUMBAL SUSULAN

Begitulah. Apa yang sempat dibicarakan Mukayani dengan Nyi Roro Kidul,benar-benar terjadi.Sabtu,17 Desember 2011 pukul 15.00 WIB,kapal fiber yang ditumpangi 215 imigran gelap asal Timur Tengah,porak poranda diterjang ombak Laut Selatan,setinggi 10 meter. Peristiwa ini,sontak menewaskan ratusan penumpangnya.Mereka kocar-kacir,dibawa arus ombak.Beberapa diantaranya ditemukan selamat.Tapi sebagiaan lagi tewas mengenaskan.Bahkan banyak diantaranya yang ditemukan dalam keadaan tubuh sudah membusuk dan rusak. “Malah ada yang sudah tidak bisa dikenali lagi,karena beberapa bagiaan tubuhnya hilang dimakan ikan,”tutur Mukayani. Dari kacamata spiritual,menurut Mukayani,para imigran gelap yang tewas ini,ternyata sudah menjadi penghuni alam gaib di kerajaan Lau Selatan.Beberapa diantaranya,kini telah menjadi pasukan Nyi Roro Kidul yang ditempatkan di beberapa wilayah untuk menjaga agar tidak terjadi tsunami. Mereka menjaga wilayah pesisir,mulai Pantai Pangandaran Cilacap,hingga beberapa pantai di Bali.Tentunya dengan pakaian lengkap ala kerajaan.”Jadi mayatnya ditemukan dalam keadaan utuh atau tidak,itu sebenarnya tak ada gunanya.Sebab mereka sudah hidup di alam gaib, menjadi penghuni Kerajaan Laut Selatan,”tukas Mukayani,yang tak bermaksud mengecilkan semangat para tim SAR yang masih terus melakukan pencarian ke beberapa tempat di laut Selatan.

Belum lama ini Mukayani juga sempat melakukan dialog kembali dengan Nyi Roro Kidul.Dan waktu itu penguasa Laut Selatan merasa senang. “Yang pertama senang karena dapat tumbal sesuai jumlah yang diinginkan.Selain itu juga senang karena jauh melebihi ukuran tubuh warga pribumi.Bahkan mereka kini dijadikan pasukan inti di Kerajaan Laut Selatan,”tandasnya. Meski saat ini tumbal sudah didapatkan,namun bukan berarti Nyi Roro Kidul berhenti untuk mencari tumbal baru.Karena itulah,Mukayani meminta agar masyarakat,khususnya para nelayan dan warga pesisir berhati-hati,agar tidak menjadi tumbal susulan berikutnya. “Kodisi alam,khususnya Laut Selatan,sekarang ini masih belum stabil.Oleh sebab itu,masyarakat saya harap tetap waspada.Jika memang harus ke laut karena pekerjaan,seperti misalnya nelayan,supaya berhati-hati.Dan ingat,jangan berkata-kata tidak pantas atau melamun,saat berada di laut,kalau nggak ingin celaka,”pesan Mukayani.

LARUNG SESAJI

Selain meminta masyarakat waspada,Mukayani juga berharap kepada para pemerintah daerah,khususnya di wilayah-wilayah yang dilalui Laut Selatan,untuk memberikan tumbal sesaji.”Sekarang ini jarang sekali dilakukan acara larung sesaji.Padahal itu sangat penting.Tujuannya,agar warga di pesisir,mendapat perlindungan dari Nyi Roro Kidul,jika sewaktu-waktu alam murka seperti ini,”ujarnya. Upacara larung sesaji sendiri,diakui Mukayani sebenarnya sudah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Jawa.Namun sejak beberapa tahun terakhir,acara sakral ini mulai ditinggalkan oleh sejumlah daerah. “Bentuk upacara larung sendiri bermacam-macam.Tapi umumnya menggunakan kepala kerbau yang diberi beberapa piranti ritual lainnya.Semua itu kemudian dilarungkan ke laut,sebagai wujud persembahan kepada Nyi Roro Kidul,yang menjadi penguasa gaib di Kerajaan Laut Selatan,”terang Mukayani,seraya menambahkan jika acara seperti ini seharusnya rutin dilakukan setiap memasuki Bulan Suro,pada penanggalan Jawa.

Sementara itu,pasca tewasnya ratusan imigran gelap di Laut Selatan,membuat sebagian besar nelayan di Pantai Prigi trauma.Mereka khawatir dengan kondisi alam yang masih mengganas. Bahkan karena itulah,banyak diantara para nelayan yang memilih libur untuk sementara waktu.Mereka tak ingin nekat melaut,yang ujung ujungnya malah menjadi korban keganasan Laut Selatan berikutnya. Beberapa nelayan,rela memilih pekerjaan lain untuk mengisi waktu libur mereka.Seperti menjadi kuli bangunan,buruh tani atau sekedar menjadi pencari kayu bakar di hutan-hutan. ( rul )

* Sumber Tabloid Kisah Nyata 

Edisi 391 Tgl.05 s/d 11 Januari 2012 Hal.2-3

Klik kotak untuk menyebarkan info ini sebagai Amal baik Anda
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul : RATUSAN IMIGRAN GELAP JADI TUMBAL RATU PANTAI SELATAN
Ditulis Oleh : Mas Yani Geteda / Moh Mukayani
Semua artikel Geteda dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Kekayaan Intelektual - Jika mengutip sebagian atau keseluruhan harap berikan link yang menuju ke artikel RATUSAN IMIGRAN GELAP JADI TUMBAL RATU PANTAI SELATAN ini atau cukup tulis sumbernya www.geteda.com - Terima kasih atas perhatian Anda dan Salam Hati Nurani